Skip to main content

Tahu Tek


‘Ntah, sudah berapa kali aku menolak, menghindari, setiap kali ingin pergi melewati tempat kejadian malam itu yang sampai saat ini meninggalkan luka yang begitu membekas. Pun ketika ingin mengantarkan pakaian untuk dilaundry di tempat langganan. Jadi, harus mengambil jalan putar balik untuk mencari tempat laundry lainnya.

Malam ini, tak terelakkan. Saat ini mau tak mau harus lewat. Kakiku mulai gemetar dengan tiba-tiba. Ka Heni yang saat itu dengan tiba-tiba juga berucap.

“Aku pengen tahu tek”

DEG

Lidahku kelu untuk menjawab. Ka Heni langsung berbelok dan singgah tepat di depan gerobak tahu tek. Turun. Lalu memesan 2 bungkus. Aku sempat bersikeras tidak ingin turun. Dan Ka Heni tersenyum padaku penuh arti.

“Aku harus banget turun, ya?” 

Menyadari antri yang lumayan banyak, aku akhirnya ikut turun dan mengambil tempat duduk agak ke belakang, untuk setidaknya membuat pandanganku terlindungi dari tempat di seberang situ.

Denyut nadiku perlahan naik. Aku mulai merasakan sesak. Aku mengenggam tanganku keras. Menahan tangis yang siap turun dari sudut mata. Dan, benar saja. Dengan segera, tanpa aba-aba. Air mataku runtuh dengan seketika. Ka Heni terperangah melihatku dan bertanya dengan raut iba. Aku menarik nafas kuat.

“Kak, kenapa rasanya trauma ini begitu melekat?”

Sebelumnya, tak pernah aku sekalut ini. Hanya karena tahu tek yang kiranya tak memberikan kesan apa-apa kecuali perasaan kenyang dan nikmat. Ku rasa, malam itu tak bisa membuatku lupa. Malam yang paling menakutkan. Malam yang membuatku hampir kehilangan harapan. Malam yang meninggalkan luka begitu mendalam. Dan tentang setiap detik yang terjadi di antaranya, aku tak bisa lupa bagaimana tawa bisa diubah menjadi duka dalam sekejap saja.

Satu bungkus tahu tek yang dibawa pulang, lantas ku siapkan untuk santapan karena kesulitan nafsu makan di beberapa hari terakhir. Dan untuk pertama kali, setiap suapan tahu tek yang saat ini ku santapi begitu memilukan hati.

Comments

Popular posts from this blog

Kita dan Restu Semesta

Maaf, jika suatu saat cerita kita hanya tertinggal sebagai sebuah kenangan. Ini semua bukan rencanaku, sungguh. Yang aku tahu hanyalah apa yang tengah kita jalani saat ini adalah apa yang dipertentangkan oleh semesta. Kita sejalan, mereka tidak. Dan bagaimana mungkin kita bisa hidup jika semesta tidak memberikan tempat? Oh, betapa aku mengerti ini semua begitu menyiksa. Aku tak bisa untuk tidak meluapkan tangis setiap kali hubungan kita, tentangmu, diperdebatkan. Aku yang berulang kali harus berpura-pura jika tanpamu aku baik-baik saja di hadapan semesta, begitu terluka. Mengetahui bagaimana kita di masa yang akan datang, membuatku harus memberikan banyak  pain   killer  untuk hatiku. Dan untuk memberitahu padamu bahwa aku telah mengetahui ini semua, aku ingin mati saja. Bagaimana mungkin aku mampu untuk mengatakan padamu agar bisa mengikhlaskanku?  Tidak sekali-dua kali aku melihatmu berjuang dalam ketidakberdayaanmu untuk menghancurkan egoku kala aku seda...

Hello, 2017!

Selamat tahun baru 2017, teman-teman. Well ya, sekian lama absen dari entri baru. Menyambut tahun baru rasanya tergelitik buat flashback momen-momen di sepanjang tahun 2016 dalam bentuk tulisan dan sedikit gambar melalui postingan ini. Bukan hanya sekedar mengenang, tetapi juga untuk mengingat supaya dapat kembali bersyukur terhadap banyak hal yang sangat sangat luar biasa yang sudah dilewati. Mungkin nggak semua kejadian di 2016 yang akan terekam di tulisan ini. Hanya beberapa, tapi cukup mewakilkan. Dan yang terpenting, berbagi. Karena berbagi adalah hal yang menyenangkan untuk saya. Apapun itu, termasuk cerita yang akan kalian baca setelah ini. Januari 2016 A little surprise from him Masih hangat rasanya ingatan tentang bagaimana saya melewatkan malam pergantian tahun 2015 ke 2016. Seperti tahun-tahun sebelumnya, di Banjarmasin. Bersama sahabat-sahabat SMA, tak terkecuali Aris. Dan seperti tahun sebelumnya juga, jauh dari kedua orang tua. Tapi hangat kasih sayang ...

Terima kasih 2020

Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang lebih produktif, tak banyak hal yang terjadi di tahun 2020. Namun bukan dalam artian bahwa 2020 tidak berarti. Justru lebih dari itu. Mengawali tahun 2020 dengan penuh kegamangan menjadi ujung dari sebuah perjalanan panjang yang sudah ku jalani dan ku taruh harapan penuh padanya selama 8 tahun. 2020 menjadi saksi bagaimana aku hampir gila dibuatnya. 2020 pulalah yang membuat menghentikan ekspektasiku untuk menyandang gelar dokter di tahun itu juga. 2020 yang menjadi cerita bagaimana pandemi mengubah dunia. Kita semua. Kami sempat menjalani aktivitas seperti biasa dari awal tahun sampai Februari. Hingga awal Maret kasus COVID-19 mulai masuk ke Kalimantan dan segala kegiatan praktik klinik pun dihentikan sementara “sampai batas waktu yang tidak dtentukan”. Kecewa, iya. Tapi mau bagaimana lagi? Kabar berita yang merebak di media, membuatku tak kalah meratap menyadari kondisi dunia yang benar-benar menakutkan. Menggugurkan para pahla...