Skip to main content

Sesederhana Itu

            Aku mengagumimu sesederhana itu,

Sesederhana awan melepaskan tetesan airnya membasahi tanah tempat kita berpijak.

Aku mencintaimu sesederhana itu,

Sesederhana tanah basah yang mengeluarkan aroma khasnya mencipta rasa damai.

Aku menyayangimu sesederhana itu,

Sesederhana ibu jari seorang mama kala mengusap airmata jagoan kecilnya.

Aku menghormatimu sesederhana itu,

Sesederhana kecupan ringan sejumlah bocah kecil dipunggung tangan pengajarnya.

Dan sesederhana itulah kamu,

Sosok yang dimataku terlihat luar biasa, sangat.

Sosok yang kubanggakan.

Sosok yang didalamnya kan kuselipkan rasa cintaku,

Bukti bahwa aku tak hentinya bersyukur pada Tuhan karena Ia telah mengirimkanmu, seseorang 

yang hampir sempurna, seseorang yang mampu membuatku kuat.

Maka, Kuungkapkan rasa hormat yang teramat atas semua yang telah kau berikan untukku,

Ya, hormatku, Gadis yang telah kau rawat, kau jaga dan kau didik sejak 14 tahun lalu,

Hormatku untukmu, Pemilik nama yang kadang menjadi guyonan teman-temanku tanpa sedikitpun 

kesopanan dalam kalimat mereka.

Hormatku teruntuk kamu, Ayah

With love, your daughter..
Anisah Uswatun Hasanah


Comments

Popular posts from this blog

Kita dan Restu Semesta

Maaf, jika suatu saat cerita kita hanya tertinggal sebagai sebuah kenangan. Ini semua bukan rencanaku, sungguh. Yang aku tahu hanyalah apa yang tengah kita jalani saat ini adalah apa yang dipertentangkan oleh semesta. Kita sejalan, mereka tidak. Dan bagaimana mungkin kita bisa hidup jika semesta tidak memberikan tempat? Oh, betapa aku mengerti ini semua begitu menyiksa. Aku tak bisa untuk tidak meluapkan tangis setiap kali hubungan kita, tentangmu, diperdebatkan. Aku yang berulang kali harus berpura-pura jika tanpamu aku baik-baik saja di hadapan semesta, begitu terluka. Mengetahui bagaimana kita di masa yang akan datang, membuatku harus memberikan banyak  pain   killer  untuk hatiku. Dan untuk memberitahu padamu bahwa aku telah mengetahui ini semua, aku ingin mati saja. Bagaimana mungkin aku mampu untuk mengatakan padamu agar bisa mengikhlaskanku?  Tidak sekali-dua kali aku melihatmu berjuang dalam ketidakberdayaanmu untuk menghancurkan egoku kala aku seda...

Selamat Hari Puisi Sedunia, Para Pujangga!

Para pujangga tersohor di seluruh dunia Dan mereka yang senang merangkai kata Bergelut manja dengan kata-kata Bermain ria dengan kalimat-kalimat sahaja Hari ini katanya hari puisi sedunia Lalu merebak sajak-sajak penuh makna Dan rahasia-rahasia yang disembunyikan melalui prosa Tertumpah dalam lembaran suci tanpa noda Para pembacanya kemudian tersenyum-senyum dibuatnya Atau terhanyut dalam kenangan yang kembali menimbulkan luka Bisa saja sebagian darinya menjadi nestapa Atau menjadi resah setelahnya Aku, si pembuat puisi itu yang telah lalu tak perlu kau tahu aku pula pembacanya hingga waktu yang lama sampai ku hampir melupa kau pernah membuatku jatuh cinta lalu terluka dalam waktu yang sama.

Maaf, Aku Pengecut

Maaf atas aku yang tak cukup baik untukmu. Atas aku yang kerap menyakitimu. Mematahkan semangatmu untuk mempertahankanku. Saat kau menjanjikan perjuangan dan kesetiaan hubungan kita, maaf, karena aku justru sebaliknya. Aku tak begitu pandai dalam urusan setia, apalagi memperjuangkan. Tapi, sungguh, aku tak pernah berbohong perihal aku mencintaimu setulus hatiku. Aku yakinkan itu. Dan akan terus kubuktikan meski caraku tak lebih baik darimu. Atas luka bertubi dan tangis yang sulit dihenti, maaf, sekali lagi. Tak bisa ku balas dengan segala bahagia yang telah kau beri. Aku mulai merasa hampa dan sejujurnya ini begitu sulit untuk ku katakan. Tapi aku tak tahan jika harus terus mendengar harapmu yang tak kunjung bisa ku balas dengan baik. Aku hanya bisa memberikan cinta dan aku bersumpah kasihku pun akan terus mengalir untukmu. Tanpa henti. Bukan tentang tak lagi sayang atau lelah bertahan. Hanya saja, aku pikir, aku tak lagi bisa sejalan dengan langkahmu. Terlalu banyak yang bertola...