Skip to main content

Kepada Kamu dan Emosimu


Sejak awal, janji untuk saling mencintai yang kau sanggupi adalah janji yang harus ditepati hingga akhir nanti. Sejak hari dimana kau membuka mata, hingga memutuskan untuk jatuh hati pada ia yang kau temui di hari lalu, tentu kau sudah membuat berbagai macam pertimbangan. Sampai pada waktu kau mengungkapkan, jelas kau telah tahu bahwa akan selalu ada konsekuensi dari setiap keputusan.
Maka dari itu, kepada siapa pun wanita yang berada dalam pilihan yang telah kau jatuhkan, bersungguh-sungguhlah dalam menjalani hidup bersamanya. Meski dalam segala kesulitan, teruslah saling berpegangan tangan. Karena konsekuensi yang dimaksudkan akan selalu hadir. Dalam wujud masalah yang biasa dihadirkan pada setiap kesenjangan.
Patah hati terhebat dalam hidupmu bisa saja terjadi jika kau terus memberi makan egomu. Menangislah karena emosi yang tak terperi, tapi jangan pernah sendiri. Menangislah dalam peluknya, wanita yang kau cintai. Bukan untuk tempat kau tumpahkan amarahmu padanya. Ia pun ada untuk membuatmu tenang. Karena aku pun meyakini, bahwa tempat paling teduh dan menenangkan adalah dia yang sungguh-sungguh kau cintai dalam janji seumur hidupmu. Sesungguhnya.
Menghadapi masalah demi masalah adalah apa yang sudah disuratkan oleh pemilik semesta. Kepada setiap darinya yang menghampiri, tak harus kau meluapkan amarah atau mengucapkan kata pisah. Bukankah cinta yang tulus penuh kasih sayang akan selalu memberi toleransi? Teruslah saling menghormati. Di luar dari permasalah pelik akan pengkhianatan, jangan pernah berhenti untuk saling menggenggam. Tidak peduli saat kamu berada di titik terendah sekalipun. Teruslah ada, meski kadang tak bisa dipungkiri bahwa pastinya akan ada sekali-dua kali emosi yang bermain. Ingatlah kembali pada masa dimana kamu jatuh hati dan memutuskan dia sebagai satu-satunya yang kamu ingini hingga akhir hayat nanti.
Dia pun, tentu, sudah dengan begitu hebatnya mencintaimu dalam pasang-surutnya, tak ingin ingin semuanya menjadi sia-sia. Tak ingin ada luka. Karena sampai kapan pun, perpisahan adalah mimpi buruk bagi setiap orang. Tak ada yang menginginkannya, meski sedetik saja. Tidak ada. Tak terkecuali kamu, pun wanitamu.
Kepada kamu, yang berada dalam emosi tak terperi, jika masih saja mencoba tuk mengabaikannya, ingat kembali wajah wanitamu yang menunggumu dalam resahnya. Ia tak ingin kamu meninggalkannya dalam emosimu sendiri. Ia mengkhawatirkanmu. Hingga bergetar hebat jari jemarinya, gemuruh di dadanya. Datanglah padanya, sebelum hancur pertahanannya.

Comments

Popular posts from this blog

Kita dan Restu Semesta

Maaf, jika suatu saat cerita kita hanya tertinggal sebagai sebuah kenangan. Ini semua bukan rencanaku, sungguh. Yang aku tahu hanyalah apa yang tengah kita jalani saat ini adalah apa yang dipertentangkan oleh semesta. Kita sejalan, mereka tidak. Dan bagaimana mungkin kita bisa hidup jika semesta tidak memberikan tempat? Oh, betapa aku mengerti ini semua begitu menyiksa. Aku tak bisa untuk tidak meluapkan tangis setiap kali hubungan kita, tentangmu, diperdebatkan. Aku yang berulang kali harus berpura-pura jika tanpamu aku baik-baik saja di hadapan semesta, begitu terluka. Mengetahui bagaimana kita di masa yang akan datang, membuatku harus memberikan banyak  pain   killer  untuk hatiku. Dan untuk memberitahu padamu bahwa aku telah mengetahui ini semua, aku ingin mati saja. Bagaimana mungkin aku mampu untuk mengatakan padamu agar bisa mengikhlaskanku?  Tidak sekali-dua kali aku melihatmu berjuang dalam ketidakberdayaanmu untuk menghancurkan egoku kala aku seda...

Selamat Hari Puisi Sedunia, Para Pujangga!

Para pujangga tersohor di seluruh dunia Dan mereka yang senang merangkai kata Bergelut manja dengan kata-kata Bermain ria dengan kalimat-kalimat sahaja Hari ini katanya hari puisi sedunia Lalu merebak sajak-sajak penuh makna Dan rahasia-rahasia yang disembunyikan melalui prosa Tertumpah dalam lembaran suci tanpa noda Para pembacanya kemudian tersenyum-senyum dibuatnya Atau terhanyut dalam kenangan yang kembali menimbulkan luka Bisa saja sebagian darinya menjadi nestapa Atau menjadi resah setelahnya Aku, si pembuat puisi itu yang telah lalu tak perlu kau tahu aku pula pembacanya hingga waktu yang lama sampai ku hampir melupa kau pernah membuatku jatuh cinta lalu terluka dalam waktu yang sama.

Maaf, Aku Pengecut

Maaf atas aku yang tak cukup baik untukmu. Atas aku yang kerap menyakitimu. Mematahkan semangatmu untuk mempertahankanku. Saat kau menjanjikan perjuangan dan kesetiaan hubungan kita, maaf, karena aku justru sebaliknya. Aku tak begitu pandai dalam urusan setia, apalagi memperjuangkan. Tapi, sungguh, aku tak pernah berbohong perihal aku mencintaimu setulus hatiku. Aku yakinkan itu. Dan akan terus kubuktikan meski caraku tak lebih baik darimu. Atas luka bertubi dan tangis yang sulit dihenti, maaf, sekali lagi. Tak bisa ku balas dengan segala bahagia yang telah kau beri. Aku mulai merasa hampa dan sejujurnya ini begitu sulit untuk ku katakan. Tapi aku tak tahan jika harus terus mendengar harapmu yang tak kunjung bisa ku balas dengan baik. Aku hanya bisa memberikan cinta dan aku bersumpah kasihku pun akan terus mengalir untukmu. Tanpa henti. Bukan tentang tak lagi sayang atau lelah bertahan. Hanya saja, aku pikir, aku tak lagi bisa sejalan dengan langkahmu. Terlalu banyak yang bertola...